Minggu, 13 Desember 2015

Senyum Membawa Kedamaian

Kadang kala kita tak mengerti kenapa kita harus kita selalu tersenyum dengan orang lain. Tujuannya jelas kalau kita ingin mempererat hubungan. Dengan senyum semuanya akan terasa aman. Dengan senyum kita memberikan isyarat bahwa kita menerimanya kita mampu bersosialisasi dengannya tanpa ada perbedaan yang menghalangi itu semua.

Senyuman mampu memberikan sejuta makna benar bukan ?? Jawabannya tentu saja benar. Makna untuk saling mengasihi dan makna selalu untuk bersikap sopan tanpa ada pertentangan dalam diri. Senyum dan teruslah senyum seperti halnya ketika kita bersama dengan orang yang kita kasihi kita akan selalu senyum dan sehingga senyum itu menjadi tawa tawa yang menggelegar membuat kebersamaan itu menghidupkan kenyamanan dan kedamaian dalam hidup.

Jika mencari kedamaian itu mudah kenapa tidak harus dilakukan ?? Maka teruslah tersenyum dengan siapa saja agar kedamaian menyebar melalui senyum persahabatan itu. Agar senyum mampu membawa kenyamanan dan menjauhkan pertentangan dalam hubungan setiap orang.

Beberapa kamuflase foto dibawah kebersamamaanku dengan teman lama yang telah lama tak bertemu ketika kami bertemu senyum akan memancarkan kedamaian dan kenyamanan tersendiri dalam hubungan.

Rabu, 18 November 2015

Kalian Tau ?? Perbedaan itu Indah

Perbedaan terkadang membuat kita tak nyaman, tak sejalan (mungkin), namun ketahuilah bahwa perbedaan itu sungguh Indah. Negara kita Indonesia masyarakatnya plural negara yang sangat banyak suku, ras, bahasa, warna kulit, adat istiadat, kebiasaan, budaya bahkan agama. Itu sgt banyak perbedaan. Tapi lihatlah dengan perbedaan negara kita menjadi indah bukan ?? Dari budaya dan adat istiadat yg banyak perbedaan bgtu indah mewarnai khas Indonesia. Dan begitu banyak masyarakat memiliki agama yang berbeda pula nah untuk itulah kita juga harus mengindahkan perbedaan agama. Tiap tahunnya banyak yg merayakan hari kebesaran agama masing2 dan kita melihat ritual masing2 sangat indah. Seharusnya dgn perbedaan agama kita bisa mendamaikan dunia. Tuhan menciptakan seluruh alam semesta ini dengan berbeda - beda apa tuhan ingin bertujuan untuk perang ??? Tentunya tidak. Tuhan menciptakan alam semesta ini dengan berbedaan cukup apik dan unik, tentunya Tuhan ingin kita menjadi umat yang selalu mengindahkan perbedaan menikmati perbedaan saling bertoleransi antar perbedaan, Tuhanpun juga menginginkan kita saling berdamai dengan adanya perbedaan kita dapat saling melengkapi satu sama lain. Tuhan menciptakan manusia utuh sempurna dan memiliki kekurangan dan kelebihan yang bisa mereka manfaatkan untuk hidup.

Ini saya akan menceritakan pengalaman proyek kebaikan di Panti School Of Life. Saya dan kelompok saya merasa senang sekali karena kami bisa belajar dari mereka. Disana mereka memiliki kecacatan ganda yang sebenarnya itu sangat menyulitkan bagi kehidupannya. Tapi berkat panti ini mereka bisa bertahan hidup menjalankan aktifitasnya dengan senang dan tanpa keluhan. Mereka disana dari keluarga yang berbeda-beda namun mereka sangat menyayangi. Mereka disana diajarkan untuk hidup saling tolong menolong dan saling menyayangi.
Dan sayapun sangat senang bisa ikut menolong mereka bagi yang kesusahan untuk kegiatan makan. Disana orangnya juga sangat ramah. Tidak adapun disana yang membeda-bedakan.
Kami melihat beberapa orang yang disana sudah begitu normal untuk menjalankan kehidupannya tapi mereka memilih tetap brtahan disana untuk membantu yang lainnya disana.

Nah pesan dari artikel ini yaitu. Orang yg kurang sempurna saja bisa membagi waktu, bertoleransi, saling tolong menolong, menciptakan kedamaian knp yang orang dikatakan utuh tidak bisa ? Malah saling memusnahkan ?? Itu sebenarnya sangat memalukan.
Semoga artikel ini bisa menjadi renungan kita. Bahwa perbedaan itu indah dan dapat menciptkan kedamaian. Sekali lagi jika kedamaian bukan Tuhan yang menciptakan tapi dari Perbedaan manusia yang saling melengkapi dapat menciptakan kedamaian.




Sabtu, 31 Oktober 2015

Agama dan Perdamaian

Sering kali kita melihat apapun yang terkait dengan agama selalu mengundang persoalan konflik dan dialog, konfrontasi dan kerja sama, toleransi dan fanatisme, serta perang dan perdamaian. Agama sebagai sebuah fenomena sosial, tentu tidak akan pernah final dibicarakan dan ditafsirkan; agama selalu hidup dalam sejarah umat manusia dan mengikuti perkembangan zaman. Dari waktu ke waktu agama mengalami penafsiran ulang yang kadang digunakan kelompok-kelompok tertentu untuk membela kepentingannya.
Murad W Hofmann (2006), sebagai tokoh yang sangat concern terhadap perdamaian agama, berusaha mempertemukan antara agama, dalam hal ini misalnya, Islam dan Kristen, dengan membuka jalan dialog, kerjasama dan alternatif lainnya. Selama ini, kedua agama ini saling menyimpan kecurigaan yang kuat dan tak jarang hingga meletuskan konflik dan konfrontasi yang destruktif bagi tumbuhnya keharmonisan bagi antar pemeluk agama.
Selain itu, kenyataan pularisme agama dan budaya membuat umat beragama harus menegaskan kembali identitas keagamaan di tengah-tengah umat beragama lain yang juga eksis. Pluralisme keagamaan sudah menjadi kenyataan sejarah yang tidak mungkin bisa dihindari. Namun, pluralisme dan perbedaan (eksoterik) agama sering menjadi sumber konflik dan ketegangan di antara umat beragama. Bahkan umat beragama sebagian besar masih memandang agama lain dalam konteks "superior" dan "inferior" dan mengakibatkan hubungan – hubungan konfliktual.
Sebagian besar konflik antar-agama maupun budaya saat ini merupakan akibat penghinaan. Misalnya, banyak dari hal-hal yang terjadi di dunia Islam saat ini, yang secara simplistik dianggap sebagai fundamentalisme, merupakan penegasan terhadap identitas kultural yang selama ini dianggap inferior. Demikian halnya dengan berbagai konflik yang terjadi di Tanah Air, sebagian (atau mungkin seluruhnya) muncul sebagai akibat penghinaan dan sikap tidak adil yang dipraktikkan sekelompok orang atas kelompok lain yang justru jumlahnya lebih besar.
Salah satu tokoh mendefiniskan "peradaban" sebagai pengelompokan terbesar masyarakat yang melampaui tingkat pembedaan manusia dari spesies lainnya. Sebuah peradaban ditentukan oleh anasir-anasir objektif bersama-bahasa, sejarah, agama, adat, dan lembaga-lembaga-juga oleh swa-identifikasi masyarakat. kini ada tujuh atau delapan peradaban besar di dunia: Barat, Konfusius, Jepang, Islam, Hindu, Kristen Ortodoks, Amerika Latin, dan "mungkin" Afrika. Dalam peradaban Barat, versi Katolik atau Protestan dari agama Kristen membentuk bagian dari lanskap budaya mereka, meski masyarakat negara-negara Barat amat terbagi berdasar kepercayaan keagamaannya. Dalam setiap peradaban, ada beberapa tren pemikiran yang mengikuti garis-garis pengakuan, dan yang lain mengikuti garis-garis penempatan-subjek perdebatan yang kini hidup di negara-negara seperti Turki dan Italia.
Oleh karena itu, alih-alih dilihat sebagai sebab hubungan konfliktual, perbedaan di antara budaya-budaya dan agama-agama seharusnya bisa menjadi sumber pengalaman untuk saling melengkapi. Budaya-budaya dan agama-agama yang berbeda memiliki instrumen-instrumen intelektual, simbolik, dan eksistensial yang memberi pandangan spesifik tentang realitas personal, historis, dan kosmik, tetapi ia tidak harus menjadi pandangan yang dipaksakan. Tentu saja, saling memperkaya hanya mungkin dilakukan jika kelompok-kelompok yang berbeda mengorganisasi sifat mereka yang terbatas melalui dialog yang konstruktif.
Satu jaminan perdamaian di antara berbagai budaya dan peradaban adalah perdamaian antar-agama. Seluruh agama besar dunia menyeru pada perdamaian, kasih sayang, keselarasan, simpati, keadilan, kedermawanan, kepedulian, dan kelembutan. Agama-agama seharusnya tidak hanya mengajarkan nirkekerasan dalam komunitas mereka sendiri, tetapi juga mempraktikkan sebuah dialog yang penuh pengertian dan kesantuan dengan agama-agama lain, serta membela kebebasan beragama-legislasi yang menghormati kebebasan hati nurani dari setiap manusia, dan memungkinkan praktik setiap agama dalam teritori historis agama-agama lain. Dan agama-agama seharusnya bisa menyetujui serangkaian kriteria etik universal untuk memberikan basis bagi perdamaian di dunia, dengan membuka pintu selebar-lebarnya untuk kesepakatan antarbudaya dan politik berdasarkan nirkekerasan dan saling menghormati.


dosen : Gregorius Daru
posted by:
Kiky Alvia / 02 /12.E1.0089