Sering
kali kita melihat apapun yang terkait dengan agama selalu mengundang persoalan
konflik dan dialog, konfrontasi dan kerja sama, toleransi dan fanatisme, serta
perang dan perdamaian. Agama sebagai sebuah fenomena sosial, tentu tidak akan
pernah final dibicarakan dan ditafsirkan; agama selalu hidup dalam sejarah umat
manusia dan mengikuti perkembangan zaman. Dari waktu ke waktu agama mengalami
penafsiran ulang yang kadang digunakan kelompok-kelompok tertentu untuk membela
kepentingannya.
Murad W Hofmann (2006), sebagai
tokoh yang sangat concern terhadap perdamaian agama, berusaha mempertemukan
antara agama, dalam hal ini misalnya, Islam dan Kristen, dengan membuka jalan
dialog, kerjasama dan alternatif lainnya. Selama ini, kedua agama ini saling
menyimpan kecurigaan yang kuat dan tak jarang hingga meletuskan konflik dan
konfrontasi yang destruktif bagi tumbuhnya keharmonisan bagi antar pemeluk
agama.
Selain itu, kenyataan pularisme
agama dan budaya membuat umat beragama harus menegaskan kembali identitas
keagamaan di tengah-tengah umat beragama lain yang juga eksis. Pluralisme
keagamaan sudah menjadi kenyataan sejarah yang tidak mungkin bisa dihindari.
Namun, pluralisme dan perbedaan (eksoterik) agama sering menjadi sumber konflik
dan ketegangan di antara umat beragama. Bahkan umat beragama sebagian besar
masih memandang agama lain dalam konteks "superior" dan
"inferior" dan mengakibatkan hubungan – hubungan konfliktual.
Sebagian besar konflik
antar-agama maupun budaya saat ini merupakan akibat penghinaan. Misalnya,
banyak dari hal-hal yang terjadi di dunia Islam saat ini, yang secara
simplistik dianggap sebagai fundamentalisme, merupakan penegasan terhadap
identitas kultural yang selama ini dianggap inferior. Demikian halnya dengan
berbagai konflik yang terjadi di Tanah Air, sebagian (atau mungkin seluruhnya)
muncul sebagai akibat penghinaan dan sikap tidak adil yang dipraktikkan
sekelompok orang atas kelompok lain yang justru jumlahnya lebih besar.
Salah satu tokoh mendefiniskan "peradaban"
sebagai pengelompokan terbesar masyarakat yang melampaui tingkat pembedaan
manusia dari spesies lainnya. Sebuah peradaban ditentukan oleh anasir-anasir
objektif bersama-bahasa, sejarah, agama, adat, dan lembaga-lembaga-juga oleh
swa-identifikasi masyarakat. kini ada tujuh atau delapan peradaban besar di
dunia: Barat, Konfusius, Jepang, Islam, Hindu, Kristen Ortodoks, Amerika Latin,
dan "mungkin" Afrika. Dalam peradaban Barat, versi Katolik atau
Protestan dari agama Kristen membentuk bagian dari lanskap budaya mereka, meski
masyarakat negara-negara Barat amat terbagi berdasar kepercayaan keagamaannya.
Dalam setiap peradaban, ada beberapa tren pemikiran yang mengikuti garis-garis
pengakuan, dan yang lain mengikuti garis-garis penempatan-subjek perdebatan
yang kini hidup di negara-negara seperti Turki dan Italia.
Oleh karena itu, alih-alih
dilihat sebagai sebab hubungan konfliktual, perbedaan di antara budaya-budaya
dan agama-agama seharusnya bisa menjadi sumber pengalaman untuk saling
melengkapi. Budaya-budaya dan agama-agama yang berbeda memiliki
instrumen-instrumen intelektual, simbolik, dan eksistensial yang memberi
pandangan spesifik tentang realitas personal, historis, dan kosmik, tetapi ia
tidak harus menjadi pandangan yang dipaksakan. Tentu saja, saling memperkaya
hanya mungkin dilakukan jika kelompok-kelompok yang berbeda mengorganisasi
sifat mereka yang terbatas melalui dialog yang konstruktif.
Satu jaminan perdamaian di antara
berbagai budaya dan peradaban adalah perdamaian antar-agama. Seluruh agama
besar dunia menyeru pada perdamaian, kasih sayang, keselarasan, simpati,
keadilan, kedermawanan, kepedulian, dan kelembutan. Agama-agama seharusnya
tidak hanya mengajarkan nirkekerasan dalam komunitas mereka sendiri, tetapi
juga mempraktikkan sebuah dialog yang penuh pengertian dan kesantuan dengan
agama-agama lain, serta membela kebebasan beragama-legislasi yang menghormati
kebebasan hati nurani dari setiap manusia, dan memungkinkan praktik setiap
agama dalam teritori historis agama-agama lain. Dan agama-agama seharusnya bisa
menyetujui serangkaian kriteria etik universal untuk memberikan basis bagi
perdamaian di dunia, dengan membuka pintu selebar-lebarnya untuk kesepakatan
antarbudaya dan politik berdasarkan nirkekerasan dan saling menghormati.
dosen : Gregorius Daru
posted by:
Kiky Alvia / 02 /12.E1.0089